Batu Teriak

tertanam batu itu dalam tanah
dihimpit rumput, basah lembab berlumpur
tergenang becek lembek
tersembul sebagai pusara

pagi sebelum terik
tanah baru saja bergetar
lagi-lagi bergetar
bergetar-getar terus hingga getaran berubah ombak

retak koyak sobek patah roboh
sontak suara gemuruh
pecah air menjadi ombak
menggulung kikis tanah hingga surut

terlontar batu dari tanah
dihimpit puing
basah tenggelam lumpur
lenyaplah pusara

batu teriak mencari makamnya
terseret tak kembali ke peraduan
gundukannya hilang menjadi bukit
beton seng papan balok tengkorak

tangan besi menggaruk
puing terangkat batu terbuang
jauh terjepit tumpukan sampah
tak berarti tak bermakna

batu terus teriak, cari aku!
kembalikan aku!
tanam aku sebagai pusara
nisan bagi kuburan-kuburan masal!


BANDA ACEH, 6 bulan setelah 26/12/2004

Leave a respond