Kusaksikan Tsunami Itu
Labels:
puisi
sayup-sayup suara burung ramai bertabrakan di udara
gemuruh datang menyertai dari kejauhan
sorak teriak manusia berlari menghampiri
desiran air serupa ombak merayap cepat
puing bongkah dan sampah menyatu dalam gulungan lumpur
seorang anak kecil hanyut diatasnya
tangan yang terjuntai mengapai pucuk-pucuk daun
sekejab air berubah ombak menjadi lumpur penghisap
menenggelamkan ribuan manusia yang tak sempat lari
kemudian terdengar rintihan, teriakan dari atap tinggi
menangis dan terdiam tak mengerti apa yang telah terjadi
hingga mayat berserakan rumah hancur jalan putus
seorang bapak terseok menapaki jalan yang hilang
membuka tumpukan puing menarik seng
mencari anaknya yang terlepas dari pelukan
hingga malampun menjadi dingin sunyi dan gelap
hanya gempa yang menyadarkannya dari lelap
gemuruh datang menyertai dari kejauhan
sorak teriak manusia berlari menghampiri
desiran air serupa ombak merayap cepat
puing bongkah dan sampah menyatu dalam gulungan lumpur
seorang anak kecil hanyut diatasnya
tangan yang terjuntai mengapai pucuk-pucuk daun
sekejab air berubah ombak menjadi lumpur penghisap
menenggelamkan ribuan manusia yang tak sempat lari
kemudian terdengar rintihan, teriakan dari atap tinggi
menangis dan terdiam tak mengerti apa yang telah terjadi
hingga mayat berserakan rumah hancur jalan putus
seorang bapak terseok menapaki jalan yang hilang
membuka tumpukan puing menarik seng
mencari anaknya yang terlepas dari pelukan
hingga malampun menjadi dingin sunyi dan gelap
hanya gempa yang menyadarkannya dari lelap
Jeulingke, 9 Januari tahun 2006

Leave a respond
Posting Komentar